STOP
EKSPLOITASI CULA-CULA!

Ada yang tau apa nama
tumbuhan diatas? Saya yakin Kallolo dan
Anaddara Lembang tidak akan tahu
namanya, bahkan kalian mungkin baru pertama kali melihat jenis tumbuhan yang sekilas mirip
bambu tersebut. Tumbuhan dengan nama latin Calamus
Rotang atau orang Indonesia menyebutnya dengan tumbuhan rotan yang berasal
dari keluarga Calameae. Orang Pattinjo
biasa menyebut tumbuhan ini dengan sebutan Uwe.
Sejujurnya penulis juga baru pertama kali melihat pohon dari tumbuhan ini,
Di awal tulisan saya
memulainya dengan pernyataan bahwa
generasi milenial Lembang tidak akan tahu tentang visual tumbuhan Uwe ini, Kenapa?
Pernyataan tersebut akan saya sebagai asbab untuk membuka cerita tentang
“Hilangnya Uwe” di tanah Lembang, dan fakta sejarah rotan ini akan saya gunakan
sebagai dasar teori untuk memberitahu teman-teman tentang kisah yang akan sama
terhadap tumbuhan cula-cula,
terdengar familiar bukan nama tumbuhan tersebut? Belakangan cula-cula tadi sedang menjadi
perbincangan hangat masyarakat di Kabupaten Pinrang. Namun, Sebelum itu saya
akan bawa teman-teman kembali ke era 1980-an di saat Uwe lenyap dari tanah
subur pegunungan Lembang.
Dahulunya rotan adalah tanaman yang akrab ditemui oleh masyarakat Lembang, di kebun-kebun olahan, di
hutan-hutan tak berpenghuni hingga dibelakang rumah. Rotan yang awalnya
dianggap tanaman liar semata dengan tinggi menjulang mulai dieksploitasi
setelah kemampuan untuk mengolahnya dan menjadikannya sebagai salah satu
komoditas kerajinan tangan mulai dilakukan. Di tahun-tahun itu profesi mencari
rotan adalah sebuah pekerjaan mewah, para pencarinya mulai merangsek ke hutan-hutan di seluruh pegunungan Letta,
mereka bahkan harus tinggal di dalam hutan selama berminggu-minggu untuk
menemukan rotan berkualitas tinggi. Bahkan di era eksploitasi rotan tersebut
diabadikan melalui sebuah lagu dalam bahasa Pattinjo yang masih sering
dinyanyikan oleh orang tua kepada anak-anaknya, liriknya kira-kira seperti ini,
“Nyarang-nyarang patteke ponno doi
kantongnga”. Nyarang patteke atau
kuda penanjak merupakan kendaraan untuk mengangkut rotan dari pegunungan
ketempat pengepul, ponno doi kantongnga berarti kantongnya penuh dengan uang,
menandakan profesi tersebut benar-benar menjanjikan, tak heran ekploitasi rotan
membawanya pada hal yang memprihatinkan di tanah Lembang, hilang.

Lalu bagaimana dengan
tumbuhan diatas? Bagi mereka yang berdomisili di Kabupaten Pinrang atau
Polewali Mandar tidak akan merasa asing
dengan tumbuhan yang berada di sepanjang jalan dengan tiap ujung tangkainya
ditutup menggunakan plastik. Cula-Cula, begitulah warga di Kabupaten Pinrang
menyebutnya, tumbuhan berakar tunggang dan berbatang keras ini mulai menjadi
komoditas tanaman hias yang paling diburu di pertengahan tahun 2020. Tanaman
yang perawatannya tergolong mudah
dengan daun berukuran kecil
ditambah lagi tanaman ini tumbuh subur di daerah-daerah perbukitan membuat para
pemburunya tidak terlalu kesulitan untuk menemukan tanaman ini. Di kecamatan
Lembang sendiri, dengan kontur perbukitan yang dominan, tumbuhan ini sangat
mudah ditemui dan hanya menjadi tanaman pakan bagi sapi-sapi milik warga.
Namun, melimpahnya tanaman ini di perbukitan Lembang, membuat para pemburunya
berdatangan dari berbagai daerah untuk menebang secara serampangan dan
besar-besaran. Kedepannya saya akan membahas problem cula-cula yang menjadi
awal keresahan sekaligus kesadaran para aktivis Lingkar Pelajar Progresif untuk memulai kampanye ini. Tim yang dibentuk
untuk menginvestigasi isu eksploitasi cula-cula di kecamatan Lembang mengambil 3 lokasi sebagai
sampel eksploitasi oleh para “penambang” cula-cula, yakni di Desa Pakeng,
Benteng Paremba, dan Rajang.
Cula-Cula,
Komoditas dan Eksploitasi
Keresahan kami dimulai
ketika 3 mobil pick-up membawa pohon
yang telah ditebang batang dan tangkainya tersebut setiap hari dari Desa
Pakeng. Anggapan awal kami bahwa para pemburu cula-cula tersebut hanya akan
membudidayakannya untuk memperindah halaman rumah mereka. Namun setelah 3 hari
mereka terus berlalu lalang membawa hasil buruannya, kami mulai curiga
bahwa tanaman tersebut telah menjadi
lahan komoditas baru. Benar saja kabar bahwa tanaman cula-cula ternyata dijual
dengan kisaran harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah tergantung dari
keindahan bentuknya bukan sebuah desas-desus belaka, bahkan menurut dari
beberapa pihak salah satu tanaman
tersebut pernah terjual dengan harga 8 juta rupiah untuk satu batangnya. Siapa
yang tidak tergiur dengan uang sebanyak
itu? Untuk tanaman yang hanya menjadi
pakan sapi dan tersebar luas di perbukitan membuat siapapun bersemangat
mencarinya, perburuan cula-cula pun mulai menimbulkan keresahan seperti lubang
bekas galian dan batang pohon yang mereka tebang bertebaran di hutan-hutan.


Lubang dengan diameter
80cm dengan kedalaman setengah meter
kami temukan disetiap sudut hutan yang menurut penuturan warga bahwa para
pemburu cula-cula telah mencarinya disana, seperti Buttu Rada’ di Desa Rajang,
Batu Malando di Desa Pakeng dan hutan-hutan perbukitan di Desa Benteng Paremba.
Mungkin banyak pihak yang akan menyebut kami lebay dengan memulai kampanye stop
eksploitasi cula-cula ini, namun mari kita berpikir jernih. Jika setiap harinya para pemburu cula-cula
masuk ke Kecamatan Lembang di berbagai lokasi dan pulang dengan membawa batang
pohon tersebut dengan kondisi penuh dibak mobil pick-up mereka, berapa banyak batang pohon yang mereka tebang? Jika
taksiran satu bak mobil pick-up dapat
menampung 30-50 batang pohon cula-cula? Maka berapa banyak pohon dan lubang
yang mereka buat dalam seminggu? Di Rajang saja warga yang tinggal di sekitar
Buttu Rada’ menuturkan para pemburu cula-cula mengeksploitasi hutan tersebut
dalam kurun waktu 3 hari berturut-turut sehingga menurut estimasi kami 150 atau
lebih batang cula-cula telah tercerabut dari tempat tumbuh mereka lalu jika
ditambahkan dengan di beberapa lokasi lainnya
seperti di Desa Pakeng dan Benteng Paremba bisa
menyentuh angka 500 batang setiap harinya sehingga dalam seminggu 3500
batang pohon tersebut diangkut dari Kecamatan Lembang. Estimasi tadi hanya
taksiran kami dari tiga lokasi yang kami kunjungi, masih banyak lokasi yang
telah didatangi para pemburu cula-cula sehingga potensitas jumlah pohon
cula-cula yang ditebang pasti lebih dari hitung-hitungan sederhana kami. Apakah
jumlah 3500 batang masih belum mengerikan? Apalagi perburuan dan eksploitasi
yang masih terus berlanjut sampai sekarang, lalu siapa yang lebay atau siapa
yang kurang peka sekarang? Lebih lanjut kami akan memaparkan fakta tentang
urgensi tanaman tersebut di ekosistem hutan.
Cula-Cula atau tumbuhan
Serut ini merupakan tumbuhan yang mudah tumbuh dan memiliki akar tunggang yang
menancap jauh kedalam tanah, akarnya yang kuat sangat berguna untuk menahan
tanah di daerah lahan miring, seperti perbukitan. Sialnya para pemburu
cula-cula memang menjadikan perbukitan sebagai lokasi “pertambangan ” mereka,
cula-cula yang berfungsi untuk menahan tanah agar tidak longsor kini harus
menjadi komoditas dan tumbuh di pot-pot yang tangkainya ditutupi plastik.
Gambar
diatas kami abadikan saat melakukan investigasi secara diam-diam di Batu
Malando Desa Pakeng, investigasi yang kami lakukan bersama beberapa teman
mahasiswa membawa kami ke tempat para pemburu cula-cula melakukan penebangan
dan penggalian pohon tersebut. Para pemburu membawa peralatan lengkap untuk
mengambil tanaman tersebut seperti gergaji mesin, gergaji kayu hingga sekop
kecil untuk menggali akar cula-cula, mirisnya lagi mereka mengaku berasal dari
luar kecamatan Lembang, saat ditanya kenapa mereka sampai rela jauh-jauh
menyusuri gunung hingga sampai kesini, alasannya pendek saja, Cula-Cula di
kampung kami telah habis. Dari gambar diatas cukup jelas bahwa mereka tanpa
segan untuk mengambil pohon tersebut di perbukitan dengan kemiringan lebih dari
60 derajat, hal ini sangat beresiko longsor di kemudian hari, siapa yang akan
menerima dampaknya? Jelas, Warga sekitar. Kami juga sempat mengambil gambar
yang lebih miris.
Gambar disamping
adalah lokasi perbukitan tempat para pemburu cula-cula tadi melakukan
eksploitasi. Seperti yang kita lihat pipa air warga didaerah sekitar perbukitan
tersebut berada di tepian bukit
bersama dengan aliran sungai yang
mengiringi, sementara penebangan pohon dilakukan diatas pipa-pipa. Hal yang
harus kita ingat dan pahami bersama, bahwa dampak ekologis tidak langung datang
serta merta,bencana yang datang
tiba-tiba dan pemulihan jangka panjang atas kerusakan lingkungan adalah sesuatu
yang harus dibayar mahal oleh penduduk di sekitar area kerusakan, sama halnya
dengan pipa warga tersebut, longsor mungkin tidak akan langsung mendera warga,
namun dimasa yang akan datang ditambah dengan kurangnya kesadaran untuk menjaga
lingkungan membuat kerusakan disertai
bencana tidak akan butuh waktu lama rasanya.
Bukti selain dari
fungsi akar cula-cula yang kuat dan mampu menahan tanah dari longsor adalah
kemampuan bertahan hidup tumbuhan ini yang beda dari tumbuhan lain. Sedikit fakta,
Pohon Jati merupakan salah satu pohon yang sulit untuk hidup berdampingan
dengan tumbuhan akar tunggang lainnya, dikarenakan akar tanaman jati yang sangat rakus dalam mencari air dan
mineral makanan didalam tanah, jika kita cermat melihat ekosistem hutan jati
maka kita akan jarang melihat tumbuhan lain hidup diantara pepohonan tersebut,
namun cula-cula berbeda, mereka dapat tumbuh subur dan menjadi
tanaman pengganti. Kenapa tanaman pengganti? Kita semua tahu bahwa kayu
jati juga merupakan salah satu komoditas yang dijual dengan harga mahal di pasaran
sebagai bahan mebel dan perlengkapan properti lainnya, jika nantinya pohon jati
tersebut telah mencapai waktunya untuk
ditebang, lantas tanaman apa yang akan tetap mengisi lahan-lahan
tersebut? Jelas, tumbuhan cula-cula yang
akan menggantikannya demi mencegah munculnya lahan kritis, namun saat ini
cula-cula bahkan telah menjadi komoditas baru yang lebih diburu daripada pohon
jati. Di Desa Rajang sendiri bekas lubang-lubang galian para pemburu tersebar
di berbagai tempat diantara lebatnya hutan jati. Lahan kritis baru di Desa Rajang akan terlihat di areal tersebut
dalam kurun waktu 5-7 tahun kedepan.
Lalu jika semua keresahan
dan dampak tadi telah sangat jelas
merugikan masyarakat Lembang, Bagaimana cara mengatasinya? Di lokasi terakhir
investigasi kami di Desa Benteng Paremba yang patut kami apresiasi walaupun
disisi lain kami juga ingin memberikan saran dalam proses pelestarian cula-cula
di daerah mereka. Wawancara yang kami lakukan dengan warga sekitar mengatakan bahwa para pemburu
cula-cula dari luar daerah mereka tidak diizinkan untuk datang semena-mena
untuk menggali dan menebang cula-cula di daerah mereka, yang boleh menggalinya
hanyalah pemilik lahan dimana cula-cula itu tumbuh, disisi lain tiap batang
cula-cula akan dihargai 50 ribu sampai 100 ribu rupiah, dari sisi ekonomis hal
ini memberikan keuntungan melimpah bagi warga dari tanaman yang tumbuh secara tidak
sengaja di lahan mereka, dan memang Desa Benteng Paremba adalah pasar bagi
berbagai tanaman hias seperti Aglonema. Dari sisi ekologis hal ini cukup
membendung eksploitasi di desa tersebut, tidak seperti di daerah lainnya yang
membiarkan secara gratis para pemburu untuk menjarah hutan-hutan mereka
sehingga eksploitasi dilakukan secara leluasa.
Seperti apa langkah
konkret yang mesti dilakukan demi mencegah eksploitasi tanaman tersebut?
Pelarangan dan penolakan kepada para pemburu cula-cula oleh seluruh stakeholder
adalah solusi utama yang harus diambil oleh pihak terkait seperti pemerintah
desa dan kelurahan diseluruh Kecamatan Lembang beserta Dinas Kehutanan
Kabupaten Pinrang yang sepertinya masih santuy
melihat penyakit keranjingan memburu cula-cula menjangkiti masyarakat dan dan
ancaman kerusakan ekosistem hutan dan perbukitan di Kabupaten Pinrang, meskipun
cula-cula bukan merupakan tanaman yang
dilindungi, setidaknya kita tidak ingin tanaman tersebut bernasib sama
dengan rotan yang hanya menjadi dongeng dan aib bagi generasi dimasa
eksploitasi itu terjadi, di masa depan kita juga tidak ingin disebut sebagai
generasi yang sama sebagai perusak lingkungan oleh anak cucu kita. Semua pihak
adalah pemegang tanggung jawab dalam keberlangsungan lingkungan dan kelestarian
alam di tanah Lembang, kita tidak ingin hanya karena ikut trend semata bukit
dan pegunungan kita yang indah harus dirampok secara diam-diam oleh pihak yang
tidak bertanggung jawab. Akhir kata, di suatu waktu Mohandas K. Gandhi
memberikan sebuah petuah tentang alam “Ada kecukupan di dunia untuk kebutuhan
manusia, tetapi tidak untuk keserakahan manusia”.
Komentar
Posting Komentar